Pohon Persahabatan
Pohon persahabatan terus tumbuh, bagaikan tanaman yang selalu dirawat oleh pemiliknya. Akar-akarnya merambat panjang, buganya indah berwarna pink, kuning, dan ungu muda. Itulah pohon sahabat dari Aku, Faishal, dan Hanif, yang bisa dibilang sahabat karib sejak SD.
Perkenalkan, nama saya Danish Rafa Hidayat. Kalian bisa memanggil saya Danish. Saya memiliki dua sahabat, yaitu Faishal Halim dan Hanif Arsyad Rahadian. Saya biasa memanggil mereka Faishal dan Hanif. Hanif memiliki sifat yang suka lelucon dan menghibur, sedangkan Faishal sedikit jahil tetapi tetap membawa suasana lebih seru.
Sore itu...
Aku dan sahabat-sahabatku sedang main ke rumah Hanif. Kami juga diajak makan mie goreng oleh Ibunya Hanif. Aku main di rumahnya hingga maghrib. Namun, temanku lebih banyak pulang duluan karena sudah dijemput orang tuanya.
Paginya, kami bertemu kembali ke sekolah. Seperti biasa, saat waktu istirahat, kami biasa bermain di lapangan. Tetapi, hal yang tak terduga terjadi. Temanku, Faishal, mencuri buku temanku. Akhirnya terjadi perebutan buku sampai Faishal sendiri yang terkena akinbatnya. Kakinya keseleo. Malah, dia melaporkannya ke guru dan terjadi perdebatan antara Faishal dan Hanif. Semenjak itulah mereka menjauh.
Daun-daun dan bunga-bunga persahabatan mulai berjatuhan, bukan karena musim gugur, karena persahabatan antara Faishal dengan Hanif mulai runtuh. Batangnya juga tidak sekokoh dulu. Hanya ranting-rantingnya saja yang masih bertahan. Aku pun juga merasakan keruntuhannya, karena aku sahabat setia mereka.
Hari-hari kujalani tanpa mereka. Mereka hanya ingin sendiri dan juga aku sendiri. Tetapi, aku tetap senang karena masih banyak teman yang lainnya.
Hari demi hari berlalu, tetap saja pohon persahabatan tidak kembali kokoh, bahkan tambah lemah, yaitu saat Faishal menyenggolku saat di sekolah. Lantas aku menjawab, "Kalau jalan hati-hati dong!". Sikuku memar akibat benturan keras.Namun, aku mendapat teguran dari guruku. Aku pun hanya terdiam dan merasa kesal. Sementara Faishal tersenyum licik.
Sekarang, Faishal sangat akur dengan Reno. Reno adalah temanku yang terkadang emosinya selalu naik. Entah karena apa. Meskioun begitu, Faishal tetap ingin bersamanya. Kemudian, terbersit firasat di otakku, "Apakah Faishal sedang mencari teman? Biasanya orang yang dikucilkan sangat mencari perhatian.".
Dua hari kemudian, aku sedang bersama Hanif. Kami memakan snack dan juga saling berbagi. Tiba-tiba Faishal datang. "Mau apa kamu?" dengan mimik wajah tak bersahabat, Hanif menoleh padanya.
"Hei, jangan salah sangka. Aku ingin meminta maaf kepadamu atas kejadian itu." ucap Faishal.
Namun, Hanif sudah tidak percaya lagi kepada Faishal. Memang, Faishal orangnya tidak mudah dipercaya. Kemudian aku bicara pada Hanif, "Sudahlah. Maafkan saja. Mungkin dia sedang mencari teman. Dia juga kan belum lama disini." Dengan wajah memastikan, Hanif berkata dengan tegas, "Apakah kamu berjanji tidak mengulangi perbuatan merugikan itu? Bukuku rusak akibatmu." "Iya, aku berjanji gak akan mengulanginya lagi. Aku juga bersedia kok ganti rugi bukumu itu." "Nah, kan enak kalau saling memaafkan kayak gini. Apakah kau lupa masalah ini?" sambil menunjukkan sikuku yang memar. "Oh, ya, maaf Nis, aku janji gak akan berbuat kerugian lagi."
Helai-helai daun mulai tumbuh kembali. Batang pun mulai kokoh bahkan pohonnya tambah tinggi. Melambangkan persahabatan kami yang tiada batasnya.
Komentar
Posting Komentar